Showing posts with label Mitigasi. Show all posts
Showing posts with label Mitigasi. Show all posts

Saturday, March 30, 2019

Apa Yang Kira-Kira Kita Bisa Lakukan Jika Tsunami Datang Menerjang?

               (Foto : facebook.com/Risna Lotim)
     Apa yang kita lakukan jika tsunami tiba-tiba menerjang?
.
Bismillahirrahmanirrahiim..

Ini merupakan tulisan beberapa bulan yang lalu saat tsunami di Selat Sunda terjadi. Saya posting ulang di blog agar bisa bermanfaat untuk para pencari artikel.

Tadi pagi tidak sengaja menyaksikan tayangan tentang bagaimana perjuangan seorang ibu berusia sekitar 45-50 tahun, selamat setelah terseret tsunami ke tengah laut selama berjam-jam di Lampung.
.
Hal yang membuat saya tertarik menonton tayangannya adalah, ibu tadi mengatakan bahwa laptop menyelamatkan dirinya dari tsunami.
.
Awalnya, gelombang pertama yang sampai ke rumahnya sekitar 30 cm. Ibunya panik dan menelpon keluarga seraya menyiapkan diri untuk mengungsi. Laptop yang belum sempat dimasukkan dalam tas, beliau jinjing. Namun, belum sampai di pintu, air setinggi 5 meter sudah menggulung rumahnya dan menyeretnya ke tengah laut.
.
Si ibu sadar, bahwa ia harus tenang. Karena jika dia panik, beliau akan tenggelam. Karena saat panik, beban / berat badan seseorang bisa bertambah. Jadi beliau memilih rileks dan meletakkan kepalanya di laptop yang ternyata ada busanya hingga membawa ibu ini terus mengapung.
.
Benar, tubuh yang rileks akan lebih mudah mengapung di air. Alhamdulillah sekian lama di laut, beliau menemukan bambu besar. Bambu itu dipeluknya dan tetap meletakkan kepala di atas laptop sampai si ibu pun terlelap di atas air.
.
Pagi subuh ia sadar dan berdoa minta tubuhnya dihempas ke pinggir pantai. Alhamdulillah, hal itu pun terkabul.
.
Dengan tubuh penuh luka, ibu paruh baya ini merangkak berjuang naik dari bebatuan besar selama 4 jam sampai fajar muncul di ufuk. Ia melambaikan tangan dan menemukan tim evakuasi.
.
Saat bertemu tim evakuasi, ia mengatakan tidak bisa berjalan. Si ibu pun ditandu. Saat di perjalanan, beliau minta HP untuk menghubungi keluarga. Sampai ditanya sama tim evakuasi, apakah si ibu sadar dan ingat nomor Hp keluarga? Beliau menggangguk yakin.
.
Hal yang sama terjadi juga dengan vokalis Seventeen. Yang diselamatkan Allah dengan mengirim box mengapung yang menjadi pegangan saat Ifan dan beberapa orang lainnya hampir kehilangan napas karena kelelahan.
.
Di air, memang kepanikan sering terjadi. Bahkan di saat gempa pun juga demikian. Kadang bukan bencananya yang membuat kita terluka, tapi kepanikan tanpa tahu mitigasi yang tepat dari awal membuat orang sering berlari tanpa tahu arah hingga jatuh terjungkal dengan kepala terbentur tembok. Padahal gempanya tidak merobohkan apapun.
.
Jika di air, rileks tetap harus dijaga( kalau sadar). Cari pegangan pada benda2 yang sekiranya bisa dipakai bertumpu saat mengapung.
.
Selebihnya Allah lah yang punya kehendak. Kita dipanggil atau diizinkan melanjutkan hidup atau tidak.
Semua akan kembali padaNya.
.
Jumat, 28 Desember 2018
Risna

Sunday, March 24, 2019

Mitigasi Dan Antisipasi Bencana


(Foto: facebook.com/ Bayu Hp Alwaysinmyheart)
Bismillahirrohmaanirrohiim...
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh..
Berpikir tentang bencana kita sebagai warga negara yang bertempat di area Ring of Fire harus selalu sigap dalam segala keadaan merencanakan mitigasi sendiri.
Mitigasi itu sendiri, adalah bagaimana tindakan penyelamatan kita terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain ketika bencana tiba-tiba datang melanda.
Langkah pertama yang hendak kita siapkan adalah teori penyelamatan diri. Ini bisa di search di Youtube, Google dan aplikasi milik Bro Mark, yang lebih dikenal dengan Facebook. Banyak kok bertebaran di situs antah berantah dan menunggu kita untuk mencari mereka. Hoho.
(Foto: facebook.com/ Bayu Hp Alwaysinmyheart)

Ketika sudah tau teori dan tentunya mempelajari dalam segala kondisi kita harus berbuat yabg terbaik untuk keluarga terutama diri sendiri, memetakan dan memikirkan tempat paling aman untuk berlindung terutama dari bencana alam seperti gempa bumi, tsunami dan kebakaran.
Di Indonesia sendiri, dari tahun 2018 kita banyak mengenal macam-macam bencana selain gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir yang terbaru adalah likuifaksi.
Likuifaksi ini sendiri mencuat sejak gempa bumi dan tsunami melanda Palu dan Donggala. Sebenarnya fenomena ini sering mengiringi peristiwa gempa bumi. Dalam artian medisnya, likuifaksi ini seperti efek samping dari getaran yang kuat di dalam tanah. Namun, dahsyatnya likuifaksi di Petobo Palu membuat mata dunia tercengang dengan fenomena yang tak masuk akal ini. Apalagi dengan kondisi tanah yang di bawahnya ternyata memang bekas lautan dan juga tanah yang jenuh karena ada aliran air di atasnya tanpa diberikan lapisan semen.
Nah dengan tambahan fenomena likuifaksi ini, mau tidak mau kita juga harus menyiapkan mitigasi yang tepat jika likuifaksi tiba-tiba menenggelamkan rumah kita ke dalam tanah.
Belajar tentang bagaimana kesiapan kita menghadapi bencana bukan berarti kita berharap bencana datang. Namun, agar kita tetap waspada dan terhindar dari kepanikan saat bencana tiba-tiba datang.
Untuk artikel kali ini mungkin saya cuma akan berbagi bagaimana mitigasi yang saya persiapkan untuk diri saya sendiri. Karena kalau dibahas tuntas akan sangat panjang sekali melebihi panjang sungai Nil. Hehe.
Setiap ke suatu tempat, entah di rumah, sekolah, warung atau tempat yang biasa kita kunjungi sehari-hari, saya selalu mengecek perabotan dan benda-benda di sekeliling saya. Dalam hati saya bicara sendiri sambil berpikir,
"Oh jika gempa, saya akan berlindung di sini atau berlari disini (tergantung besar/skala gempa yang terasa).
Jika sekiranya skalanya kecil dan kira-kira tidak meruntuhkan bangunan, genteng, tembok dan lain-lain. Lebih baik segera lari ke tempat terbuka atau lapangan untuk menghindari guncangan susulan yang lebih besar lagi.
Namun, jika sekiranya begitu terjadi gempa langsung skala guncangannya sampai meruntuhkan bangunan, dan kita tidak akan sempat berlari maka cari tempat berlindung yang aman. Entah meja, kursi atau bawah tempat tidur. Pilih pojok ruangan/tiang bangunan dengan posisi tidur melengkung (kaki ditekuk) sambil melindungi kepala dengan tangan atau bantal."
Kira-kira seperti itu mitigasi untuk bencana gempa bumi.
Untuk kesempatan ini, mungkin cukup ini dulu ya.
Jika ada waktu, nanti selanjutnya mitigasi tsunami dan lain lain.
Semoga bermanfaat. Tetap aman dan selalu dalam lindungan Allah. Aamiin ya Rabbal alamiin.
Wassalam.
Risna Adaminata.

Informasi Jadwal Lengkap Penerimaan CPNS dan PPPK

                                           (Sumber : Dok. Lembaga Administrasi Negara/LAN)     Penerimaan CPNS dan PPPK Tahun 2021 segera di...